oleh

Enam Kabupaten Di Jatim Telah Melaksanakan Program Kolega

-daerah-514 views

Detik Bhayangkara.com, Surabaya-  Program Kolega (Kolam Lele Keluarga) yang di laksanakan oleh DKP Jatim bidang Budidaya mendapat dukungan dan antusiasme tinggi dari masyarakat luas, hal tersebut karena manfaatnya langsung dapat dirasakan, juga untuk mendukung program gerakan makan ikan dan konsumsi ikan di Jawa Timur.

Dari giat Kolega tersebut, ada hal yang tidak kalah pentingnya yakni dapat memberdayakan ibu-ibu untuk bisa berkreasi dalam pengolahan makanan yang berasal dari ikan lele yang di hasilkan oleh kolam lele keluarga (kolega).

Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jatim Ir. Moh. Gunawan Saleh, MM melalui Kepala Bidang (Kabid) Budidaya Ir. Hari Pranoto, menjelaskan, bahwa di Jatim telah di laksanakan program kolam lele keluarga (Kolega) di 6 kabupaten yakni, Bangkalan, Sumenep, Sampang, Trenggalek, Sidoarjo dan Lamongan. Selanjutnya untuk triwulan 3 akan dilaksanakan di Lamongan, Nganjuk, Malang, Bondowoso serta Kediri.

Terkait kendala mahalnya pakan dalam pelaksanakan Budidaya lele, Hari Pranoto menjelaskan, bahwa ada namanya FCR, kita keluarkan pakan 1 kg dapat daging 1 kg, itu pakannya saja sudah menyentuh 9000 per Kg, kalau benihnya per ekor ukuran 5-7 cm Rp 150, dan biaya listrik serta lainnya, nanti saat panen minimal harga lele Rp 11.000,- per kg sedangkan saat ini harga lele dari petani tradisional sebesar Rp 15.500,-per kg nya, jadi masih ada keuntungan.

Ada trik dan teknik dalam budidaya lele diantaranya :

1. Pakan yang di pakai namanya fermentasi pakan, kita jangan pakai pakan yang mahal tetapi pakai pakan yang sudah ada SNI, registrasi KKP, tapi dipakai perlakuan fermentasi yakni pemakaian bakteri yang hidup tapi yang menguntungkan, jadi bisa meningkatkan protein sebesar 10% dalam waktu 24 – 36 jam.

2. Peternak lele harus memakai bibit dengan ukuran yang besar yakni 7 cm, itu harus punya chanel sendiri.

Terkait banyaknya peternak lele yang cari pakan tambahan seperti ayam yang mati, cere menje ( kecoak yang belum bersayap) serta Sisa siput, Hari Pranoto langsung mengatakan, kalau tindakan semacam itu salah.

”untuk itu jika ada masyarakat yang ingin nambah pengetahuan dan pengalaman serta teknis budidaya ikan yang baik bisa konsultasi sama pihak DKP Jatim,” pungkasnya. (Yrs’08)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed