oleh

Mafia Gentayangan, Sewa Menyewa Lahan Bandara Resahkan Masyarakat Bulusari Tarokan Kediri

-daerah-3,906 views

Detik Bhayangkara.com, Kediri Raya-  Rencana pembangunan bandara Kediri terus berjalan, masyarakat terdampak mendukung program tersebut karena di harapkan dapat berdampak positif pada masyarakat.

Dari penelusuran awak media dilapangan, yakni munculnya Kekecewaan pada masyarakat dan gejolak, karena lahan yang sudah dia serahkan untuk lahan terdampak bandara, ternyata dibuat bisnis dan disewakan lagi ke masyarakat. Selain itu masyarakat bawah yang memiliki tempat tinggal kecil tidak direlokasi tersendiri.

Untuk menjaga kerahasiaan dan keamanan, para nara sumber minta identitasnya tidak di publikasikan.

Menurut SH (56) (inisial red) tokoh masyarakat Bulusari menceritakan, saya setiap saat di sambati mereka, seperti yang punya rumah kecil dan terdampak, setelah dia terima uang dari penjualan rumahnya untuk dibelikan tanah/rumah lagi tidak bisa sebab harga ditempat yang baru lebih mahal, mereka itu pinginnya direlokasi sehingga dia bisa kerja lagi seperti sedia kala. Mereka sekarang seolah menjadi masyarakat terpinggirkan, jangan dikira semua masyarakat untung dari penjualan rumah atau lahannya. Ini kalau tidak segera di selesaikan dengan bijak akan timbul masalah baru pada masyarakat.

“Anehnya tanah milik masyarakat yang dihargai 11 juta per RU tapi saat dibelikan lagi disebelahnya tidak bisa karena harganya sudah mencapai 22 juta per RU, hal seperti ini yang tidak di pikirkan dan lolos dari perhatian publik,” ucapnya.

Permasalahan lain yang bisa menjadi bom waktu di masyarakat, yakni adanya sewa menyewa lahan yang sudah di bebaskan padahal dulunya lahan tersebut milik masyarakat.

Menurut YT (52) (inisial red) mengatakan hal yang senada, lahan yang sudah di bebaskan melalui Agus utomo di sewakan lagi pada masyarakat sebesar 750 ribu dalam sekali tanam seluas seperempat bau (125 RU). Hal ini sudah di lakukan mau ke 3 kalinya dan seperti biasanya pembayaran di lakukan setelah panen. Yang jadi pertanyaan masyarakat adalah lahan yang di sewakan itu dulunya jadi lahan mereka untuk bertani, karena belum adanya aktifitas pembangunan maka di tanami lagi, tapi kok ya di suruh menyewa padahal dulu saat transaksi sudah dijelaskan pada masyarakat bahwa sebelum mulai pembangunan bandara, lahan masyarakat yang sudah di bebaskan boleh di tanami masyarakat, dan berhenti jika pembangunan bandara di mulai, masyarakat menyadari kalau proyek sudah berjalan tidak akan menanami lagi.

”terus uang yang di pungut dari warga ke mana dan yang menyuruh bayar itu juga siapa,” katanya.

Masih menurut YT, ada juga warga yang di denda oleh Agus sebesar 1 juta karena menebang pohon mangga pemberian.

Saat awak media minta konfirmasi lewat WA ke Agus lewat Nomer Hp nya 082.5904.91XX tidak dibalas malah di blokir (bersambung). (Rs’08)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed