oleh

Diduga Gegara Junjungannya Kalah Pilkada, Kadis PU “Tarik” Alat Berat Diam-diam

-headline-12,336 views

Detik Bhayangkara.com, Koltim – Menuai padi di tahun 2021 kemungkinan jauh dinikmati oleh petani persawahan yang ada di Desa Wia-wia, Kecamatan Poli-polia, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim). Harapan mereka agar saluran irigasi bisa segera diperbaiki masih tetap menjadi kendala.

Alat berat (exavator) milik Dinas Pekerjaan Umum (PU) Koltim yang dikerahkan melakukan perbaikan ternyata tidak sepenuhnya diandalkan. Pekerjaan baru diperkirakan berjalan sekitar 60%, alat berat tersebut sudah ditarik secara diam-diam. Ada dugaan, bila alat berat ini diturunkan hanya sekedar sebagai alat “penggoda” masyarakat dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) 2020.

Kelompok tani yang ada di Desa Wia-wia sempat mengajukan usulan kepada pemerintah daerah agar diadakan perbaikan saluran irigasi yang menuju ke sawah mereka. Sebab saluran irigasi yang ada selama ini sudah tidak dapat diandalkan lagi untuk menunjang pengairan di sawah mereka lantaran jebol.

Di desa ini terdapat 8 kelompok tani sawah yang sangat bergantung pada pengairan irigasi tersebut, terhitung mulai dari dusun I hingga dusun IV. Luas arealnya kurang lebih mencapai 70-an hektar area (HA).

Jebolnya saluran ini akibat diterjang banjir. Sebetulnya kerusakan ini sudah berjalan lama. Namun petani setempat melakukan perbaikan dengan mengandalkan swadaya.

Nyoman Okadana salah seorang petani menyebutkan, alat berat itu bekerja memperbaiki saluran irigasi selama tiga hari,terhitung tanggal 3-6 Desember. Ketika memasuki pilkada tepatnya tanggal 7 sampai 9 Desember alat berhenti beroperasi.

Anehnya kata Okadana, sehari setelah pencoblosan, alat tersebut sudah tidak beroperasi lagi. Bahkan sudah tidak keliatan di lokasi pengerjaan saluran irigasi persawahan.

“Ada kelompok tani yang ada di Desa Wia-wia mencoba mempertanyakan kepada pak Desa. Tapi dia (kades) bilang sudah tidak ada karena Tony (Eks Bupati Koltim) kalah pemilihan di Wia-wia,” kata Nyoman Okadana, Rabu (17/12/2020) melalui telepon.

Karena tak ada jawaban baik mengenai status alat berat itu, Okadana dan rekannya sesama kelompok tani mencoba mempertanyakan kepada Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP), Dewa melalui telepon. Mereka dijanjikan untuk bertemu di kantor dinas PU sekaligus membicarakan langsung dengan Kadis PU, Bio Mansur, pada Senin (14/12/2020).

“Sampai di kantor PU saya telpon pak Dewa tapi HP-nya tidak aktif. Saya tanya staf PU katanya pak Kadis sedang mengikuti rapat di BPKD bersama kadis yang lain. Sampai di kantor BPKD, saya sempat menanyakan kepada staf disitu. Dia bilang bahwa ada Kadis PU didalam, sementara mengikuti rapat. Selanjutnya kami menunggu kurang lebih satu jam, tiba-tiba ketemu camat Poli-polia (Tellong Ramli). Katanya tidak ada Bio Mansur di dalam, tidak ikut rapat,”ujar Okadana.

Okadana dan beberapa rekannya kelompok tani, mencoba menghubungi kembali Dewa melalui handphone. Lagi-lagi dalam keadaan tidak aktif. Mereka lalu bersepakat mendatangi ruangan Dewa. Ternyata, Dewa saat itu berada di ruangannya, tidak kemana-mana. Nomornya diduga sengaja dimatikan untuk menghindari Okadana dan teman-temannya.

Tidak lama kemudian, Dewa mencoba menghubungi nomor Kadis PU tetapi kali itu nomornya juga dalam keadaan tidak aktif. Dewa berinisiatif menghadap Sekda. Tak lama, Sekda menelpon Okadana.

“Dia (Sekda) katakan bahwa pekerjaan di Desa Wia-wia adalah sisa anggaran tahun 2020. Sekda juga katakan tunggu dua hari ke depan nanti saya perintahkan kadis PU untuk membawa kembali alat ke Wia-wia.
Besoknya saya berbicara lagi dengan Sekda. Katanya dia ada di Jakarta dan belum berbicara dengan Kadis PU karena banyak nomornya. Dia arahkan kami datangi langsung saja rumahnya (rumah Kadis PU),”ucap Okadana.

Rabu (15/12/2020) malam Okadana dan rekannya mendatangi rumah Kadis PU. Tapi sayangnya,Kadis PU tidak ada. Menurut sang istri, sedang tidak ada. Ia juga sampaikan bahwa HP suaminya sedang rusak. Okadana lantas menghubungi kembali Sekda. Mereka sepakat bertemu pada Jumat ini, setelah Sekda kembali dari Jakarta

Okadana merasa kesal dengan Kadis PU, seakan-akan tidak peduli dengan kondisi petani. Ditambah lagi, janji untuk bertemu tak kunjung terjadi. Malahan Kadis PU terkesan menghindar dan tidak mau menemui mereka.

“Saya minta pak Sekda agar membantu kami karena kasian petani di desa kami terancam tidak tanam padi bulan Januari 2021 nanti,” pintanya. (to*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed