oleh

Sekda Koltim Pimpin Kegiatan Pemaparan Penanganan Stunting

-daerah-11,528 views

Detik Bhayangkara.com, Koltim – Saat ini Indonesia sedang menghadapi tantangan besar terkait kualitas sumber daya manusia dengan prevalensi balita stunting.

Pemerintah melalui Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) telah menetapkan 100
kabupaten/kota prioritas untuk intervensi anak kerdil (stunting).

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis upaya pemerintah daerah dalam penanggulangan stunting.

Metode penelitian dilakukan
secara kualitatif melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terfokus yang melibatkan para pemangku kepentingan hingga implementer program di tingkat masyarakat (puskesmas) dan desa/kelurahan.

Hasil penelitian menujukkan bahwa, selain program-program yang berasal dari pemerintah pusat, Kabupaten Kolaka Timur telah memiliki program-program inovasi sendiri dalam upaya percepatan penurunan/penanggulangan stunting di daerah.

Namun demikian, masih dibutuhkan waktu/proses untuk program-program tersebut dapat terlihat secara nyata pelaksanaannya dan terlihat signifikansi hasilnya.

Pemerintah Daerah Kolaka Timur terus fokus untuk menangani persolan stunting.

Hal ini dipaparkan Kepala Dinas Kesehatan Koltim Ir Barwik Sirait MSi MPh, dalam acara paparan penilaian kinerja upaya penurunan stunting terintegrasi kabupaten lokus utama Provinsi Sultra Tahun 2021, disalah satu hotel Kota Kendari, Jumat (28/5).

Kegiatan ini dipimpin Pj Sekda Kolaka Timur Andi Muh Iqbal Tongasa S.STP, M.Si dan diikuti sejumlah pimpinan OPD terkait.

Dikatakan Barwik Sirait, semua pihak di Kolaka Timur (Koltim) turut serta dan bahu membahu menangani masalah stunting ini. Misalnya, semua desa di Koltim sudah menganggarkan untuk Kader Pembangunan Manusia atau (KPM) melalui dana desa.

“Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita. Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting oleh karenanya perlu dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita,” jelasnya.

Beberapa faktor yang menjadi penyebab stunting adalah praktek pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah melahirkan.

Masih terbatasnya pelayanan kesehatan termasuk layanan ANC-Ante Natal Care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan).

Post Natal Care dan pembelajaran dini yang berkualitas, masih kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi, kurangnya akses rumah tangga/keluarga ke makanan bergizi, kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.

Lanjut Barwik, kita fokus di 24 desa, dan untuk aksi 1- 8 kami sudah kerjakan. Dan kabar baiknya, di akhir 2020 angka penurunan stunting tinggal berada di angka 15,7 persen.

“Ini berkat kerjasama dengan semua OPD dan pihak terkait lainnya,” tutupnya. (@anto)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed