oleh

Mantaaap…!!! Empat Warga Jepara Mendapatkan Penghargaan Budaya

-daerah-10.102 views

Detik Bhayangkara.com, Jepara – Pemerintah Kabupaten Jepara memberikan penghargaan khusus kepada empat warganya yang dinilai telah berkontribusi luar biasa dalam pemajuan kebudayaan daerah. Keempatnya adalah Hadi Priyanto, Sarjono, Purwanto, dan Paniri, Rabu( 22/11/2022 ).

Dalam penganugerahan yang berlangsung di Pendopo Kartini pada Selasa malam (22/11/2022) terungkap, keempatnya memberikan kontribusi yang berbeda-beda dalam pemajuan kebudayaan di Jepara. Penghargaan diserahkan oleh Pj Bupati Jepara yang diwakili Kepala Dispartabud Zamroni Listiaza.

Hadi Priyanto, pensiunan PNS ini diberi penghargaan atas kontribusinya dalam pendokumentasian seni dan budaya daerah dalam bentuk buku dan artikel.

Sedangkan Paniri diberi penghargaan dalam kategori pelestari seni tradisi. Sementara Purwanto yang juga warga Bondo diberi penghargaan kategori pengembang kebudayaan. Purwanto merupakan pensiunan penjaga SD. Sedangkan Sarjono, PNS aktif di Disdikpora Kabupaten Jepara, diberi penghargaan karena dinilai berprestasi dalam kategori peduli seni dan budaya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara, Zamroni Lestiaza dalam sambutannya mengatakan, penghargaan ini merupakan bentuk penghargaan pada mereka yang memiliki dedikasi luar biasa dalam pelestarian seni dan budaya.

Agar tak ditinggalkan pewarisnya, seni harus terus dikembangkan tanpa harus menghilangkan jati diri seni budaya lokal.

Profile Penerima Penghargaan

Sejak aktif sebagai PNS Pemkab Jepara tahun 1982, Hadi Priyanto aktif mengangkat kekayaan budaya Jepara dalam tulisan artikel di berbagai media, mulai dari seni ukir, lomban, perang obor, tenun, batik, kentrung, dan berbagai seni dan budaya daerah, juga sejarah Jepara.

Juga aktif sebagai Ketua Umum Yayasan Kartini Indonesia yang banyak bergerak dalam upaya pelestarian nilai dan semangat R.A. Kartini dan juga tokoh-tokoh sejarah yang menjadi inspirasi dan kebanggaan Jepara.

Hadi Priyanto juga dicatat aktif menyelenggarakan forum-forum diskusi budaya serta sebagai inisiator lahirnya Festival Kartini dan even-even kreatif berbasis penguatan budaya dan potensi lokal.
Bukan hanya itu Hadi Priyanto juga aktif di lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pelestarian seni dan budaya Jepara mulai pembina Yayasan Margo Langit, pembina Yayasan Pelestari Budaya dan Sejarah Jepara, Pembina Forum Pemuda Pelestari Budaya dan Sejarah Jepara, serta pembina perpustakaan Gardu Baca. Hadi Priyanto juga menjadi Ketua Forum Penulis Jepara Literasi dan juga Ketua Lembaga Pelestari Seni Ukir, Tenun dan Batik Jepara.

Ia dengan tekun mengumpulkan cerita-cerita rakyat yang hampir hilang dan kemudian menuliskannya dalam buku. Ada buku Legenda Jepara, buku Ensiklopedi Toponimi Jepara, Legenda Mitos dan Sejarah 35 Kota di Jawa Tengah, dan Mozaik Seni Ukir yang ditulisnya bersama tim.

Juga ada buku-buku tentang tokoh-tokoh Jepara mulai dari Ratu Kalinyamat, R.M.P. Sosrokartono 2 buku, dan R.A. Kartini 2 buku. Oleh para pelajar dan mahasiswa mulai jenjang sarjana hingga program doktoral, Hadi Priyanto sering dijadikan narasumber ketika mereka sedang menyelesaikan tugas akhirnya jika mengambil tema penelitian seni ukir, R.A. Kartini, R.M.P. Sosrokartono, legenda Jepara, dan tradisi serta budaya Jepara.

Penerima penghargaan kategori pelestari seni tradisi, Paniri oleh Disparbud Jepara dicatat felah mencintai seni tradisi sejak masih remaja. Peran yang dimainkan pertama kali di atas panggung ketoprak adalah sebagai seorang ledek. Setelah diangkat menjadi guru pegawai negeri tahun 1975 peran itu masih saja dijalani, walaupun kemudian ia juga memainkan peran lain sesuai yang diberikan oleh sang sutradara.

Paniri juga mendirikan grup ketoprak yang diberi nama Hendro Budoyo. Namun karena banyak tokoh yang meninggal dunia dan pentas ketoprak tidak lagi ramai, ia mengembaangkan Reog Candi Budoyo sejak tahun 2012.
Karena kecintaan pada seni budaya, pada tahun 2006, Paniri pernah menggelar sebuah even Festiva Barongan Dencong menampilkan 34 grup barongan di alun-alun Jepara yang dicatat dalam rekor Muri.

Karena kondisi kesehatannya, Paniri akhirnya mengajukan pensiun muda sebagai seorang guru tahun 1998. Paniri menderita glukoma hingga matanya tidak bisa lagi melihat dengan jelas. Namun kecintaan dan kesetiaan pada seni tradisi tidak pernah luntur. Bahkan dalam usianya yang samakin tua, Paniri masih banyak menyuarakan tentang perlunya nguri-uri seni tradisi. Reog Candi Budoyo yang didirikan 10 tahun yang lalu, masih tetap eksis di tengah-tengah pengaruh globalisasi.

Beda lagi dengan Sarjono yang diberi penghargaan kategori peduli seni dan budaya.
ASN di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga ini sejak tahun 1998 memulai aktivitas berkesenian di Jepara dengan ikut ambil bagian dalam pendirian Teater Gaperto. Ia kemudian memimpin Jaringan Teater Pelajar Jepara (Jutapsara) yang kemudian berkembang menjadi Yayasan Jaringan Budaya untuk Perkembangan Jepara (Jungpara).

Bersama Jungoara, kreativitasnya mengalir sehingga menghasilkan produk-produk seni budaya diantaranya Komunitas Musik Bambu Mpu Palman dengan macapat pesisiran-nya. Juga Wayang Bathok “Golek Langkung” yang sempat unjuk karya di berbagai festival budaya seperti Borobudur Internatinal Festival. Sarjono juga mengelola tempat pertunjukan “Panggung Alit” yang menjadi basis kreativitas seniman lintas usia, lintas cabang, diantaranya melahirkan komunitas karawitan “Putu Langgar” .

Upaya pelestaran seni tradisi, khususnya seni KENTRUNG dengan membuka pelatihan kelas kentrung yang kemudian melahirkan Komunitas Kentrung anak-anak muda “Ken Palman Kentrung Milenial. Tidak cukup hanya mengadakan pelatihan, tetapi juga ikut larut sebagai pengentrung dengan menggubah syar-syair kentrung yang mengangkat cerita-cerita rakyat dan sejarah Jepara.

Melalui Penerbit Jungpara ia juga memfasilitasi serta mendorong masyarakat Jepara khususnya kalangan pendidik untuk menerbitkan karya-karyanya, fiksi maupun nonfiksi, sebagai salah satu strategi gerakan literasi.
“Blangkon ikat Jepara” yang berbahan kain tenun Troso dan saat ini menjadi salah satu kelengkapan pakaian adat Jepara, juga salah satu hasil kreativitasnya dalam memadukan unsur seni budaya, industri UMKM, dan Fashion.

Sedangkan Purwanto yang diberi penghargaan kategori pengembang adalah pensiunan ASN Penjaga SD di Desa Bondo Kecamatan Bangsri yang lahir 27 Desember 1958. Oleh Disparbud, dia dicatat sejak kecilnya hidup di tengah keluarga seniman. Karena itu ia sangat menyukai seni tradisional, khususnya gamelan
Purwanto mulai tertarik untuk menekuni Gamelan Jawa ketika masih berumur 9 tahun, atau sekitar tahun 1967-an. Sebab di samping suka wayang, kakeknya memiliki seperangkat gamelan Jawa sehingga mudah bagi Purwanto belajar Gamelan.

Purwanto ikut aktif dalam pementasan ketika berusia 17 tahun. Saat itu ia memainkan instrumen bonang penerus dalam pementasan wayang kulit. Namun ia terus beajar hingga mahir pula memainkan beberapa instrumen gamelan seperti saron, demung, gender, gambang, siter, slentem dan gendang.
Kesenian yang digeluti Purwanto hingga saat ini yaitu, pewayangan yang berperan sebagai pengendang dan penggender, pengajar karawitan anak di salah satu sekolah dasar, kelompok campursari, komposer iringan untuk tari-tarian, dan aktif dalam salah satu kelompok ketoprak di Jepara.

Selain aktif sebagai pelaku kesenian, Purwanto juga berperan di balik panggung yaitu sebagai pengatur keuangan dalam kelompok campursari miliknya bernama Gondo Arum, maupun dangdut yang bernama Birawa. Di samping itu ia juga berperan sebagai “penghubung panjer/managemen” di dalam beberapa kelompok wayang kulit yang diikutinya.

Disamping berkarya dalam berkesenian, Purwanto juga diberi mandat oleh dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten Jepara untuk membagi pengalaman dan kemampuan yang ia miliki dengan utuk pengajar karawitan di tingkat Sekolah Dasar (SD) Guyangan 02, Bangsri, Jepara hingga saat ini.

Lomba dalang dan waranggono

Disamping itu diserahkan juga hadiah lomba dalang cilik dan waranggono cilik. Untuk waranggono diraih oleh Sukma Ayu Dewi Lestari, Safira Marta Hardiyanti, Nasjwa Aulia Syafa

Untuk dalang tingkat SD diraih oleh Wahyu Dharma Dhara,Tegar Fachur Rozi dan Muhamad Kamaludin
Untyk.lomba dalang tingkat SMP diraih oleh Sudhanang Bodhi Wijahayo, Valindita Rafiansyah dan Sulistyo Wibowo.

Disamping itu diserahkan juga penghargaan untuk para petinggi yang telah melestarikan seni tradisional, Desa tersebut adalah desa Gedangan, Pringtulis, Ngroto,Ngeling,Tegalsambi, Mulyoharjo,Mindahan, Suwawal, Jugo, dan Desa Cepogo.

Acara ditutup dengan pagelaran wayang dengan menampilkan Ki Dalang Heru Prabakusuma D.SN dengan lakon Tripama Kawedar. ( Sunarso )

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed